Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Batubara ( Tinjauan Umum, Genesis, Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan, Jenis-jenis dan Parameter Kualitas Batubara )


2.1    Batubara
Menurut Stach (1975), batubara adalah suatu endapan yang tersusun dari bahan organik (organic) dan non organik (inorganic). Bahan organik berasal dari sisa tumbuhan yang telah mengalami berbagai tingkat pembusukan (decomposition) dan perubahan sifat-sifat fisik serta kimia baik sebelum maupun sesudah tertutup endapan lain diatasnya.
Dekomposisi tanaman ini terjadi karena proses biologi dengan mikroba dimana banyak oksigen dalam selulosa diubah menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Kemudian perubahan yang terjadi dalam kandungan bahan tersebut disebabkan oleh adanya tekanan, pemanasan yang kemudian membentuk lapisan tebal sebagai akibat  pengaruh panas bumi dalam jangka waktu berjuta-juta tahun, sehingga lapisan tersebut akhirnya memadat dan mengeras. Pola yang terlihat dari proses perubahan bentuk tumbuh-tumbuhan hingga menjadi batubara yaitu dengan terbentuknya karbon. Kenaikan kandungan karbon dapat menunjukkan tingkatan batubara. Dimana tingkatan batubara yang paling tinggi adalah antrasit, sedang tingkatan yang lebih rendah dari antrasit akan lebih banyak mengandung hidrogen dan oksigen (Yunita, 2000).
Selain kandungan C, H dan O juga terdapat kandungan lain yaitu belerang (S), nitrogen (N), dan kandungan mineral lainnya seperti silica, aliminium, besi, kalsium dan magnesium yang pada saat pembakaran batubara akan tertinggal sebagai abu. Karena batubara merupakan bahan galian fosil padat yang sangat heterogen, maka batubara mempunyai sifat yang berbeda-beda apabila diperoleh dari lapisan yang berbeda-beda. Bahkan untuk satu lapisan dapat menunjukkan sifat yang berbeda pada lokasi yang berbeda pula (Yunita, 2000).

2.1.1 Genesis Batubara
Genesis batubara berdasarkan tempat terjadinya dibagi menjadi dua, yaitu (Krevelen, 1993):
1.      a. Teori Insitu
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan itu berada (terjadi di tempat itu juga) yang mempunyai ciri-ciri, seperti penyebarannya luas dan kualitasnya baik (karena kadar abunya rendah).
2.      b. Teori Drift
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat lain dari tumbuh-tumbuhan asal itu berada karena sudah tertransportasi yang mempunyai ciri-ciri, yaitu penyebarannya tidak luas tetapi banyak dan kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung pengotornya.

2.1.2 Faktor-faktor yang Berpengaruh
Menurut Hutton and Jonnes (1995), batubara terbentuk melalui proses yang sangat panjang dan lama, di samping dipengaruhi faktor alamiah yang tidak mengenal batas waktu, terutama ditinjau dari segi fisika, kimia ataupun biologis. Faktor-faktor yang memengaruhi dan menentukan terbentuknya batubara tersebut antara lain posisi geoteknik, keadaan topografi daerah, iklim daerah, proses penurunan cekungan sedimentasi, umur geologi, jenis tumbuh-tumbuhan, proses dekomposisi, sejarah setelah pengendapan, struktur geologi cekungan dan metamorfosa organik.
Hal-hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:
1.            a. Posisi geoteknik
Posisi geoteknik adalah letak suatu tempat yang merupakan cekungan sedimentasi yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik lempeng. Adanya gaya-gaya tektonik ini akan mengakibatkan cekungan sedimentasi menjadi lebih luas apabila terjadi penurunan dasar cekungan. Proses tektonik dapat pula diikuti oleh perlipatan perlapisan batuan maupun patahan. Apabila proses yang disebut terakhir ini terjadi, satu cekungan sedimentasi akan dapat terbagi menjadi dua atau lebih sub cekungan sedimentasi dengan luasan yang relatif kecil. Kejadian ini juga akan berpengaruh pada penyebaran batubara yang terbentuk. Makin dekat cekungan sedimentasi batubara terbentuk atau terakumulasi, terhadap posisi kegiatan tektonik lempeng, kualitas batubara yang dihasilkan akan semakin baik.
2.            b. Keadaan topografi daerah
Daerah tempat tumbuhan berkembang baik, merupakan daerah yang relatif tersedia air. Oleh karena itu, tempat tersebut mempunyai topografi yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah yang mengelilinginya. Makin luas daerah dengan topografi relatif lebih rendah, makin banyak tanaman yang tumbuh, sehingga makin banyak terdapat bahan pembentuk batubara. Apabila keadaan topografi daerah ini dipengaruhi oleh gaya tektonik, baik yang mengakibatkan penaikan ataupun penurunan topografi, maka akan berpengaruh pula terhadap luas tanaman yang merupakan bahan utama sebagai bahan pembentuk batubara. Hal ini merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan penyebaran batubara berbentuk lensa.
3.            c. Iklim daerah
Iklim berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Daerah yang beriklim tropis dengan curah hujan silih berganti sepanjang tahun, di samping tersedianya sinar matahari sepanjang waktu, merupakan tempat yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman. Daerah yang memiliki iklim tropis hampir semua jenis tanamannya dapat hidup dan berkembang baik. Oleh karenanya, di daerah yang mempunyai iklim tropis pada masa lampau sangat memungkinkan terdapat endapan batubara dalam jumlah banyak, sebaliknya daerah yang beriklim sub tropis mempunyai penyebaran endapan batubara relatif terbatas. Kebanyakan luas tanaman yang keberadaannya sangat ditentukan oleh iklim akan menentukan penyebaran dan ketebalan batubara yang nantinya akan terbentuk.
4.            Proses penurunan cekungan sedimentasi
Cekungan sedimentasi yang ada di alam bersifat dinamis, artinya dasar cekungannya akan mengalami proses penurunan atau pengangkatan. Apabila proses penurunan dasar cekungan sedimentasi lebih sering terjadi, akan terbentuk penambahan luas permukaan tempat tanaman mampu hidup dan berkembang. Selain itu, penurunan dasar cekungan akan mengakibatkan terbentuknya batubara yang cukup tebal. Makin sering dasar cekungan sedimentasi mengalami proses penurunan, batubara yang terbentuk akan makin tebal.
5.            d. Umur geologi
Jaman Karbon (kurang lebih berumur 350 juta tahun yang lalu), diyakini merupakan awal munculnya tumbuh-tumbuhan di dunia untuk pertama kali. Sejalan dengan proses tektonik yang terjadi di dunia selama sejarah geologi berlangsung, luas daratan tempat tanaman hidup dan berkembang biak, telah mengalami proses coalification cukup lama, sehingga mutu batubara yang dihasilkan sangat baik. Jenis batubara ini pada umumnya terdapat di daerah benua seperti Australia, Asia, Afrika, Eropa dan Amerika. Di Indonesia, batubara didapatkan pada cekungan sedimentasi yang berumur Tersier (kurang lebih berumur 70 juta tahun yang lalu). Berdasarkan hitungan waktu geologi, 70 tahun yang lalu masih dianggap terlalu muda apabila dibandingkan dengan jaman Karbon. Batubara yang terdapat di cekungan sedimentasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan belum mengalami proses coalification sempurna. Hal ini akan berakibat, mutu batubara yang didapatkan di kedua pulau tersebut belum mempunyai kualitas baik, masih tergolong pada jenis bitumina, belum sampai pada jenis antrasit (yang dianggap rank batubara tertinggi). Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa semakin tua lapisan batuan sedimen yang mengandung batubara, semakin tinggi rank batubara yang akan diperoleh.
6.            e. Jenis tumbuh-tumbuhan
Menurut Hutton and Jonnes (1995) present is the key to the past merupakan salah satu konsep geologi yang mampu menjelaskann kaitan antara mutu batubara dengan tumbuhan semula yang merupakan bahan utama pembentuk batubara. Arang kayu yang diproses dari kayu yang keras misalnya kayu dari tumbuhan Lamtoro akan mempunyai mutu yang relatif lebih baik, dibandingkan apabila arang kayu tersebut diproses dari kayu yang relatif lunak misalnya kayu dari tumbuhan Gliricidae. Bertitik tolak pada analogi, batubara yang terbentuk dari tanaman keras dan berumur tua akan lebih baik dibandingkan dengan batubara yang terbentuk dari tanaman berbentuk semak dan hanya berumur semusim. Peat dikenal pula sebagai gambut yang didapatkan di Kalimantan dan Sumatera terbentuk dari tanaman semak dan rumput, yang merupakan jenis batubara rank rendah. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa makin tinggi tingkatan tumbuhan (dalam sistematika taksonomi) dan makin tua umur tumbuhan tersebut, apabila mengalami proses coalification akan menghasilkan batubara dengan kualitas baik.
7.            f. Proses dekomposisi
Proses dekomposisi pada tumbuhan merupakan bagian dari transformasi biokimia pada bahan organik, merupakan titik awal rantai panjang proses alterasi. Selama proses pembentukan gambut (yang merupakan tahap awal dalam proses pembentukan batubara), sisa tumbuhan mengalami perubahan, baik secara fisik maupun kimia. Setelah tumbuhan mati proses degradasi biokimia lebih berperan. Proses pembusukan (decay) akan terjadi sebagai akibat kinerja dari mikrobiologi dalam bentuk bakteri anaerobic. Jenis bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen, menghancurkan bagian lunak dari tumbuhan seperti cellulosa, protoplasma dan karbohidrat. Proses tersebut membuat kayu berubah menjadi lignit dan bitumina.
8.            g. Sejarah setelah pengendapan
Sejarah cekungan tempat terjadi pembentukan batubara salah satu faktor di antaranya ditentukan oleh posisi cekungan sedimentasi tersebut terhadap posisi geoteknik. Makin dekat posisi cekungan sedimentasi terhadap posisi geoteknik yang selalu dinamis, akan memengaruhi perkembangan batubara dan cekungan letak batubara berada. Selama waktu itu pula proses geokimia dan metamorfisme organik akan ikut berperan dalam mengubah gambut menjadi batubara. Apabila dinamika geoteknik memungkinkan terbentuk perlipatan pada lapisan batuan yang mengandung batubara dan terjadi pensesaran, proses ini akan mempercepat terbentuknya batubara dengan rank yang lebih tinggi. Proses ini akan dipercepat apabila dalam cekungan atau berdekatan dengan cekungan tempat batubara tersebut berada terjadi proses intrusi magmatis. Panas yang ditimbulkan selama terjadi proses perlipatan, pensesaran ataupun proses intrusi magmatis, akan mempercepat terjadinya proses coalification atau sering disebut sebagai proses permuliaan batubara. Hasil kadar dari proses ini mengakibatkan terbentuk batubara dengan kadar C (karbon) cukup tinggi dengan kandungan H2O yang relatif rendah. 
9.            h. Struktur geologi cekungan
Batubara terbentuk pada cekungan sedimentasi yang sangat luas, hingga mencapai ratusan hingga ribuan hektar. Berdasarkan sejarah bumi, batuan sedimen yang merupakan bagian kulit bumi, akan mengalami deformasi akibat gaya tektonik. Cekungan akan mengalami deformasi lebih hebat apabila cekungan tersebut berada dalam satu sistem geantiklin atau geosinklin. Akibat gaya tektonik yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, batubara bersama dengan batuan sedimen yang merupakan perlapisan di antaranya akan terlipat dan tersesarkan. Proses perlipatan dan pensesaran tersebut akan menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan akan berpengaruh pada proses metamorfosis batubara, dan batubara akan menjadi lebih keras dan lapisannya terpatah-patah. Makin banyak perlipatan dan pensesaran terjadi di dalam cekungan sedimentasi yang mengandung batubara, secara teoritis akan meningkatkan mutu batubara. Oleh sebab itu, pencarian batubara bermutu baik, diarahkan pada daerah geosinklin atau geantiklin, karena di kedua daerah tersebut diyakini kegiatan tektonik berjalan cukup intensif.
10.         i. Metamorfosa organik
Tingkat kedua dalam proses pembentukan batubara adalah penimbunan atau penguburan oleh sedimen baru. Apabila telah terjadi proses penimbunan, proses degradasi biokimia tidak berperan lagi, tetapi mulai digantikan dan didominasi oleh proses dinamokimia. Proses ini menyebabkan terjadinya perubahan gambut menjadi batubara dalam berbagai mutu. Peningkatan mutu batubara sangat ditentukan oleh faktor tekanan dan waktu. Tekanan dapat diakibatkan oleh lapisan sedimen penutup yang tebal, atau karena tektonik. Waktu ditunjukkan, bilamana bahan utama pembentuk batubara mulai bergradasi. Makin lama selang waktu semenjak saat mualai bergradasi hingga berubah menjadi batubara, makin baik mutu batubara yang diperoleh. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan bertambahnya tekanan dan percepatan proses metamorfosa organik. Proses ini akan mengubah gambut menjadi batubara sesuai dengan perubahan kimia, fisika dan tampak pula pada sifat optiknya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat sepuluh parameter yang berpengaruh dalam pembentukan batubara.

2.1.3 Jenis-jenis Batubara
          Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dikelompokkan menjadi:
1.            a. Antrasit
Batubara jenis antrasit merupakan batubara dengan peringkat tertinggi. Antrasit memiliki nilai kalor di atas 7500 kkl/kg dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, umumnya lebih keras dan kuat, mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8% juga kandungan abu dan sufur yang sangat sedikit namun batubara jenis ini merupakan bagian terkecil dari batubara di Indonesia.
2.            b. Bituminus
Batubara jenis bituminus terdiri dari tiga golongan, yaitu jenis bituminus dengan kadar zat terbang (volatile matter) rendah, sedang dan tinggi. Batubara jenis ini biasanya dicampurkan pada briket dengan bahan pengikat berupa kanji atau semen. Bituminus mengandung 68 – 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya dengan nilai kalor 6000 sampai 7000 kkl/kg. Bituminus memiliki warna hitam mengkilap namun kurang kompak dengan kandungan air, abu dan sulfur yang sedikit. Di Indonesia, potensi batubara dengan jenis bituminus merupakan 15% dari cadangan yang ada.
3.            c. Sub-bituminus
Batubara jenis sub-bituminus merupakan peralihan antara jenis lignit dan bituminus. Batubara jenis ini memiliki warna hitam yang mempunyai kandungan air, zat terbang, dan oksigen yang tinggi serta memiliki kandungan karbon yang rendah oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. Sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa batubara jenis sub-bituminus ini merupakan batubara tingkat rendah.
4.            d. Lignit
Lignit merupakan jenis batubara peringkat rendah dimana kedudukan lignit dalam tingkat klasifikasi batubara berasa pada daerah transisi dari jenis gambut ke batubara. Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang mengandung air 35-75% dari beratnya dan nilai kalor yang rendah yaitu sekitar 4000-5000 kkl/kg. Batubara jenis ini lunak sehingga mudah hancur,  berdebu dan sangat reaktif. Untuk menghilangkan sifat-sifat tersebut, batubara jenis ini ditingkatkan mutunya melalui tahapan proses karbonisasi.
5.            e. Gambut (Peat)
Gambut berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.



Tabel 2.1. ASTM Specifications For Solid Fuels (kirk-Othmer, vol.6 dalam Billah, 2010)
Class
Group
Fixed carbon
Volatile matter
Heating values
Name
Symbol
Dry %
Dry %
Dry basis
(kcal/kg)
I.Antrachite
Meta-antrachite
Ma
>98
>2
7740

Antrachite
An
92-98
2.0-8.0
8000

semiantrachite
Sa
86-92
8.0-1.5
8300
II.Bituminous
Low-volatile
Lvb
78-86
14-22
8741

Medium volatile
Mvb
89-78
22-31
8640

High-volatile A
hvAb
<69
>31
8160

High-volatile B
hvBb
57
57
6750-8160

High-volatile C
hvCb
54
54
7410-8375





6765-7410
III.Subbituminous
Subbitominous A
SubA
55
55
6880-7540

Subbitominous B
SubB
56
56
6540-7320

Subbitominous C
Sub c
53
53
5990-6860
IV.Lignite
Lignite A
Lig A
52
52
4830-6360

Lignite B
Lig B
52
52
<5250

2.1.4 Parameter Kualitas Batubara
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat pembatubaraannya (Rank Coalification). Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), total sulfur, nilai kalor, hardgrove grindability index sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti: karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang (Muchjidin, 2006). Parameter-parameter kualitas dari batubara adalah sebagai berikut:
1.            Kandungan air (moisture)
Moisture didefinisikan sebagai air yang dapat dihilangkan bila batubara dipanaskan sampai 105oC. Kandungan air sangat dipengaruhi oleh faktor keadaan seperti ukuran butir dan faktor iklim. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk:
a.  Air bebas (Free Moisture)
Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. Batubara mempunyai sifat hidrofobik yaitu ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air, sehingga tidak akan menambah jumlah air internal. Jumlah kandungan air bebas secara prinsip tergantung dari kondisi yaitu dari lembab sampai kering. Hal tersebut juga tergantung dari penambangan, benefisiasi, transportasi, penanganan, dan penyimpanan juga distribusi ukuran butirnya. Semakin halus butir batubara, maka semakin luas jumlah permukaan butir secara keseluruhan, sehingga makin banyak pula air yang menempel (Wahyudiono, 2003).
b.  Air bawaan (inherent moisture)
Air bawaan adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. Semua batubara mempunyai pori-pori berupa pipa kapiler. Dalam keadaan alami, pori-pori ini dipenuhi oleh air. Kandungan air bawaan berada pada mikro pori, yang mempunyai tekanan lebih rendah dari tekanan uap normal. Kandungan air bawaan ini penting diketahui, karena dapat digunakan untuk mengindikasi peringkat batubara. Batubara makin tinggi kandungan air bawaannya, peringkatnya makin rendah.
Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air bawaan merupakan faktor yang merugikan karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik, sedangkan penurunan kadar air bawaan harus dilakukan dengan cara pemanasan. Kandungan moisture pada batubara sangat penting, karena dalam penjualan batubara nilai tersebut sangat diperhatikan dan menentukan harga dari batubara tersebut.
2.            2. Kandungan Abu (Ash Content)
Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik (berasal dari tumbuh-tumbuhan) dan senyawa anorganik, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada di sekitarnya, bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses pembatubaraan (coalification). Apabila batubara dibakar, senyawa anorganik yang ada diubah menjadi senyawa oksida yang berukuran butir halus dalam bentuk abu. Abu hasil pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai ash content (kandungan abu). Abu ini merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara yang tidak dapat terbakar (non combustible materials), atau yang dioksidasi oleh oksigen (Siswati dan Festiani, 2010). Batubara tidak mengandung abu tetapi mengandung mineral matter dan abu merupakan sisa pembakaran dari batubara. Kadar abu pada batubara dapat mempengaruhi jumlah bahan bakar yang dibutuhkan. Pengaruh abu juga kurang baik terhadap nilai kalor, jika semakin tinggi nilai kadar abunya maka akan semakin rendah nilai kalor dari suatu batubara. Batubara yang memiliki kandungan total abu kurang dari 8% disebut low ash coal sedangkan batubara yang memiliki kandungan total abu sebanyak 8%-15% disebut medium ash coal (Wood et al, 1983).
Seperti telah diketahui bahwa kadar batubara terdiri: air, material batubara (coal matter) dan material bukan batubara (mineral matter). Mineral matter terdiri atas 2 macam yaitu material mineral bawaan (inherent mineral matter) serta material mineral dari luar batubara (extraneous mineral matter). Inherent mineral matter berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan yang hidup di rawa-rawa dan sulit dipisahkan dari batubara. Extraneous Mineral Matter terjadi saat terambil waktu penambangan (parting), yang terbawa waktu terjadi banjir ke lapisan batubara pada waktu pembentukannya. Extraneous Mineral Matter dapat dipisahkan dari batubara dengan proses pencucian. Jika batubara dipanaskan maka mineral matter tersebut akan mengalami perubahan secara kimia menjadi abu. Perubahan secara kimia tersebut antara lain sebagai berikut:
a.  Kehilangan air dari senyawa-senyawa yang mengandung hidrogen
b.  Kehilangan CO2 dari karbonat
c.   Oksidasi FeS2 menjadi besi sulfida dan magnesium oksida
d.  Penguapan dan penguraian dari alkali chloride
Pada material lain mungkin ash bisa mencerminkan langsung mineral matter yang terkandung dalam material yang dibakar tersebut. Akan tetapi dalam batubara hal tersebut tidak selamanya terjadi karena terjadinya reaksi–reaksi kimia selama pembakaran, sehingga nilai ash yang diperoleh relatif lebih kecil      dibanding dengan nilai mineral matter yang sebenarnya (persamaan 2.1 dan 2.2).
Secara umum untuk memperkirakan jumlah mineral matter dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

MM = 1,1 x A   ........................................................... (2.1)
atau
MM = 1,08 + 0,55 S   ....................................................  (2.2)

dimana:
MM                    = Mineral Matter
A             = kandungan abu
S             = kandungan sulfur
3.            3. Zat Terbang (Volatile Matter)
Zat terbang merupakan zat aktif yang menghasilkan energi atau panas apabila batubara tersebut dibakar. Zat terbang ini umumnya terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti hidrogen (H), karbon monoksida (CO) dan metana (CH4). Dalam pembakaran batubara dengan zat terbang tinggi akan mempercepat pembakaran karbon padatnya, sebaliknya zat terbang rendah akan mempersulit proses pembakaran.
Zat terbang terdiri dari combustible gasses (gas-gas yang mudah terbakar) seperti gas hidrogen, CO, dan CH4 serta gas-gas yang dapat dikondensasikan seperti tar dengan sejumlah kecil gas-gas yang tidak terbakar seperti CO2 dan air yang terbentuk karena hasil dehidrasi dan kalsinasi. Zat terbang juga dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan peringkat batubara. Pengaruhnya dalam preparasi batubara adalah jika kandungan zat terbang tinggi (>24%) maka batubara akan mudah terbakar. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya batubara tidak dilakukan penggerusan terlalu halus, karena sangat berpotensi untuk mudah meledak.
4.            4. Karbon Tetap (Fixed Carbon)
Karbon tetap merupakan karbon yang tertinggal sesudah kandungan air dan zat terbangnya hilang. Dengan adanya pengeluaran kandungan air dan zat terbang maka karbon tertambat secara otomatis akan naik, sehingga makin tinggi kandungan karbonnya kelas batubara makin baik. Fixed carbon adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash dan volatile matter. Fixed carbon ini tidak sama dengan total carbon pada analisis ultimate. Perbedaan yang  cukup  jelas  bahwa  fixed  carbon  merupakan  kadar  karbon  pada temperatur penetapan volatile matter tidak menguap dan karbon yang menguap pada temperatur tersebut termasuk kedalam volatile matter, sedangkan total carbon yang ditentukan pada ultimate analysis merupakan semua karbon dalam batubara kecuali karbon yang berasal dari karbonat. Sebagai komponen dari analisa proksimat, fixed carbon dihitung menggunakan rumus:

FC = 100 – ( A + VM + IM )      ..................................... (2.3)

 Keterangan:
FC          = Fixed Carbon
A            = Ash Content
VM                   = Volatile Matter
IM          = Inherent Moisture
Rasio fixed carbon dengan volatile matter (zat terbang) disebut dengan “FR” (Fuel Ratio). FR juga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menentukan peringkat batubara.
  
5.            5. Nilai Kalori
Panas yang dilepaskan oleh batubara bila dibakar di udara merupakan besaran yang sangat penting dalam menganalisis batubara. Energi yang dibebaskan ini berasal dari adanya interaksi eksotermis senyawa hidrokarbon dengan oksigen. Material lainnya seperti moisture, nitrogen, sulfur dan zat mineral juga mengalami perubahan kimia, tetapi kebanyakan reaksinya endotermis dan akan mengurangi energi yang sebenarnya ada dalam batubara.
Nilai kalori yaitu besarnya panas yang dihasilkan dari pembakaran batubara, yang dinyatakan dalam Kkal/kg, BTU/lb,MJ/kg. Dalam penentuan nilai kalori batubara digunakan alat Calorymeter System. Dalam penentuan nilai kalori batubara ada bermacam basis analisis dan pengujian dilakukan untuk menunjukkan parameter kualitas batubara. Data hasil analisa nilai kalori batubara dapat dilaporkan dalam beberapa macam dasar pelaporan sesuai keperluan analisis tersebut. Dasar pelaporan analisis kualitas batubara yang biasa digunakan yaitu:
a.  CV adb (Calorific Value Air Dried Basis), Air dried basis merupakan dasar pelaporan analisis kualitas batubara dimana sampel dianalisis sesuai dengan keadaan basis kering udara.
b.  CV ar (Calorific Value As Received), As received adalah dasar pelaporan analisis kualitas batubara dimana sudah tidak mengandung total moisture dan inherent moisture.
 ................................................ (2.4)

Keterangan:
CV ar      = Calorific Value As Received
TM                   = Total Moisture
IM          = Inherent Moisture
c.    CV daf (Calorific Value Dry As Free), Dry as free adalah dasar pelaporan analisis kualitas batubara dengan basis kering dan bebas dari ash.

  ........................................ (2.5)

Keterangan:
CV daf     = Calorific Value Dry As Free
Ash         = Ash Content (Kandungan abu)
IM          = Inherent Moisture
d.    CV db (Calorific Value Dry Basis), Dry basis adalah dasar pelaporan analisis kualitas batubara untuk sampel yang telah dibebaskan dari total moisture.

  .............................................. (2.6)

Keterangan:
CV db      = Calorific Value Dry Basis
IM          = Moisture Content
e.      CV dmmf (Calorific Value Mineral Matter Free), Dry mineral matter free  adalah dasar pelaporan analisis kualitas batubara dalam kondisi sampel bebas dari total moisture dan mineral matter (ash dan volatile mineral matter) (Sudarsono, 2003).
 
Tabel 2.2. Rumus perhitungan hasil analisis pada basis berbeda (British Standards Institution (BS1016))

Wanted
As Analysed
As Received
Dry
Dry, Ash Free
Dry, Mineral Matter Free
Given

(adb)
(ar)
(db)
(daf)
(dmmf)
As Analysed
-
 
 
 
 
(adb)
As Received
 
-
 
 
 
(ar)
Dry
 
 
-
 
 
 (db)
Dry, Ash Free
 
 
 
-
 
(daf)
Dry, Mineral Matter Free
 
 
 
 
-
(dmmf)


2.1.5  Pemanfaatan Batubara
Ditinjau dari segi pemanfaatannya, batubara dapat dibagi menjadi tiga golongan (Muchjidin, 2006), yakni:
1.            Batubara untuk bahan bakar, disebut batubara bahan bakar (steaming coal, fuel coal, atau energy coal). Batubara sebagai energi alternatif yang dapat menggantikan sebagian besar peranan yang diambil oleh minyak. Batubara merupakan bahan bakar murah bahkan kemungkinan besar yang termurah dihitung persatuan energi. Batubara ini memiliki nilai yang strategis dan potensial untuk memenuhi sebagian besar energi dalam negeri. Batubara sebagai bahan bakar digunakan pada industri kereta api, kapal laut, pembangkit tenaga listrik, dan industri semen (Sukandarrumidi, 1995). Penggunaan batubara dalam bentuk briket untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil. Batubara dalam bentuk briket ini merupakan bahan yang sangat potensial untuk menggantikan minyak tanah maupun kayu bakar yang masih banyak digunakan didaerah pedesaan. Dengan beralihnya kebiasaan membakar kayu bakar ke briket batubara masalah ekologi air tanah akan mendapat bantuan yang tak terhingga (Fadarina, 1997).
2.            Batubara bitumen untuk pembuatan kokas, disebut batubara kokas (coking coal).
3.            Batubara untuk dibuat bahan-bahan dasar energi lainnya, disebut batubara konversi (conversion coal).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar